PENDIDIKAN MORAL UNTUK REMAJA

PENDIDIKAN MORAL UNTUK REMAJA

 

 

D

I

S

U

S

U

N

 

 

OLEH

 

 

DETIRA PUTRI

NPM : 1006010020

SEMESTER 1

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

UNIVERSITAS AL –WASLIYAH

MEDAN

2011

PENDIDIKAN MORAL UNTUK REMAJA

(DETIRA PUTRI , NPM : 1006010020 , FKIP BAHASA INGGRIS SEMESTER 1 )

 

ABSTRAK

 

Salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan ialah untuk membentuk sikap moral dan watak murid yang berbudi luhur . Oleh sebab itu diperlukan pendekatan pendidikan dan mata pelajaran yang membantu membentuk kepribadian murid menjadi kepribadian yang lebih baik dan bermoral .

Saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis moral yang berkepanjangan . Jika demikian , bisa dikatakan bahwa ada yang kurang tepat dengan pendidikan Indonesia sehingga sebagian bangsanya menjadi bangsa yang anarkis ,  kurang toleran dalam menghadapi perbedaan, dan korup . Terutama kalangan remaja .

Remaja merupakan aset sumber daya manusia di masa yang akan datang, pengembangan kualitasnya harus dimulai secara terpadu melalui pendekatan structural . Maka dari itu apa arti sebenarnya pendidikan moral ?  Apa kegunaannya pendidikan moral untuk remaja ? Bagaimana moral remaja zaman ini sehingga perlu diberi pendidikan moral ? .

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah , puji dan syukur atas rahmat Allah SWT yang telah memberi penulis kesehatan untuk menyelesaikan makalah penulis yang berjudul “ Pendidikan Moral Untuk Remaja ” . Makalah ini penulis susun sebagai tugas Bahasa Inonesia  guna memperoleh nilai  yang memuaskan . Adapun penulis membuat makalah ini agar mahasiswa dapat mengerti sekaligus memahami  apa itu moral yang ada pada remaja zaman sekarang , karena  itu diperlukan pendidikan moral yang cukup penting juga diketahui oleh setiap orang .

Didalam penyusunan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan      disana – sini dengan adanya makalah ini , penulis sangat mengharapkan pembaharuan guna menambah waawasan yang lebih baik . Didalam makalah ini penulis juga mengharapkan kritik dan saran dalam pencapaian sempurnanya makalah ini .

Penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak dan berbagai buku yang telah memberikan bantuan hingga terselesainya penyusunan makalah ini . Semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan Ilmu pengetahuan kepada kita semua khususnya dalam pengetahuan     Pendidikan Moral . Dan semoga makalah ini mendapat ridho Allah dan bermanfaat bagi kita semua , amin .

Medan , 20 Januari 2011

( PENULIS )

PENDAHULUAN

  1. 1.      Latar Belakang  Masalah

Salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan ialah untuk membentuk sikap moral dan watak murid yang berbudi luhur . Oleh sebab itu diperlukan pendekatan pendidikan dan mata pelajaran yang membantu membentuk kepribadian murid menjadi kepribadian yang lebih baik dan bermoral .

Saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis moral yang berkepanjangan . Jika demikian , bisa dikatakan bahwa ada yang kurang tepat dengan pendidikan Indonesia sehingga sebagian bangsanya menjadi bangsa yang anarkis ,  kurang toleran dalam menghadapi perbedaan, dan korup . Terutama kalangan remaja .

Pendidikan yang diberikan seharusnya bukan hanya pendidikan ilmu pengetahuan umum dan khusus saja tetapi pendidikan moral juga . Pendidikan moral diberikan agar tercapai tujuan dari pendidikan sebenarnya.

  1. 2.      Rumusan Masalah

Untuk membatasi agar pemikiran tidak kemana – mana maka penulis akan membatasi permasalahannya . Batasan masalah yang penulis ambil yaitu :

  1. Apa arti pendidikan moral sebenarnya ?
  2. Bagaimana moral remaja saat ini ?
  3. Apa arti pentingnya pendidikan moral untuk remaja ?
  1. 3.      Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai syarat memperoleh nilai akhir semester 1 mata kuliah Bahasa Indonesia , Serta diharapkan dapat memberikan manfaat kepada para pembaca .

BAB 2

PEMBAHASAN

  1. 1.       Pendidikan

1.1  Pengertian Pendidikan

Pendidikan secara bahasa berasal dari kata Paedagogik yaitu Paid artinya anak   dan Gogos artinya membimbing.Jadi secara bahasa pendidikan adalah membimbing anak . Secara umum atau istilah pendidikan terdapat beberapa pendapat .

Pendidikan menurut tokoh pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara yaitu :

  1. Pendidikan adalah tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak.
  2. Pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran dan jasmani anak-anak .

Menurut UU Republik Indonesia yang tertuang dalam UU No.12 Tahun 1989  tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu “ Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta diidk melalui kegiatan pembimbingan,pengajaran dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang “ .

           

Hakikat pendidikan sebenarnya adalah untuk merubah tingkah laku seseorang , sebagai transformasi budaya dan memberikan ilmu pengetahuan . Pendidikan melibatkan peserta pendidik , pendidik , kurikulum dan sebagainya yang ada dalam unsure pendidikan .

1.2  Tujuan Pendidikan

Menurut UU No . 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional , tujuan dari  pendidikan nasional adalah :

1   .Mengembangkan potensi peserta didik .

1        . Menjadikan peserta menjadi manusia yang berIMTAQ kepada Tuhan YME .

2        . Menjadi manusia yang berakhlak mulia , cakap dan kreatif .

3        . Menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab .

2 . Moral

1.1  Pengertian Moral

Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan . Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar , salah , bai k, buruk , layak atau tidak layak , patut maupun tidak patut . Moral dalam istilah dipahami juga sebagai  (1)  prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk .  (2) kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah . (3) ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik .

Moral merupakan kondisi pikiran , perasaan , ucapan , dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk . Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya . Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia .   Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu . Tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi . Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit .

Moral adalah perbuatan / tingkah laku / ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia . Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya , maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik , begitu juga sebaliknya .

Moral juga dapat diartikan sebagai sikap , perilaku ,  tindakan , kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman , tafsiran , suara hati , serta nasihat , dll . Moral sendiri diartikansebagai suatu norma, suatu konsep tentang kehidupan yang dijunjung tinggi olehsebagian besar masyarakat tertentu (Semi, 1993:49).

1.2    Pendidikan Moral

Dalam pendidikan moral tidak dapat dilakukan hanya melalui ceramah , khotbah , atau cerita-cerita semata .              Mungkin metode itu masih efektif sebelum memasuki zaman global seperti sekarang ini . Pendidikan moral melalui metode ceramah , khotbah , ataupun metode konvensional lainnya kini tidak efektif lagi jika diterapkan dalam pendidikan kita . Metode atau teknik-teknik demikian hanya akan menambah pengetahuan siswa ataupun mahasiswa , namun jarang sekali mampu merubah perilaku-nya .

Menurut Lickona dalam bukunya “Educating for Character” yang ditulis kembali oleh Paul Suparno , dkk (2002) , beliau menekankan pentingnya memperhatikan tiga unsur dalam menanamkan nilai moral , yaitu antara lain :

  1. Pengertian atau Pemahaman Moral

Yaitu kesadaran moral, rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang harus melakukan hal itu, suatu pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai moral  Pengertian atau Pemahaman Moral ini seringkali disebut dengan penalaran moral atau pemikiran moral atau pertimbangan moral. Itu merupakan segi kognitif dari nilai moral. Segi kognitif ini perlu diajarkan dalam pendidikan moral kepada siswa maupun mahasiswa, dimana pendidik membantu mereka untuk mengerti mengapa suatu nilai perlu dilakukan.

  1. Perasaan Moral

Dalam hal ini lebih menekankan pada kesadaran akan hal-hal yang baik dan tidak baik. Wujud kongkrit dari perasaan moral ini yaitu perasaan mencintai kebaikan dan sikap empati terhadap orang lain. Karena itu pendidik baik di sekolah maupun kampus, perlu memahami, megajarkan serta mengembangkan perasaan moral tersebut melalui pembukaan hati nurani dan penanaman sikap empati kepada para peserta didik.

  1. Tindakan Moral

Yaitu kemampuan untuk melakukan keputusan dan perasaan moral kedalam perilaku-perilaku nyata. Tindakan-tindakan moral ini harus difasilitasi agar muncul dan berkembang dalam pergaulan remaja dan generasi muda sehari-hari. Menurut penulis di

sekolah misalnya bisa difasilitasi melalui kegiatan bakti sosial, ROHIS (Kerohanian Islam), OSIS, Pramuka, PMR, dsb. Di kampus misalnya melalui kegiatan donor darah, kajian agama, pengajian rutin, kegiatan pengabdian masyarakat, dsb. Fasilitator-fasilitator itu perlu ditumbuhkan guna mendukung keberhasilan pendidikan atau pembelajaran moral di sekolah dan kampus.

Pendidikan moral perlu menjadi prioritas dalam kehidupan . Adanya panutan nilai, moral, dan norma dalam diri manusia dan kehidupan akan sangat menentukan totalitas diri individu atau jati diri manusia , lingkungan sosial, dan kehidupan individu.

Oleh karena itu, pendidikan nilai yang mengarah pada pembentukan moral yang sesuai dengan norma-norma  kebenaran menjadi sesuatu yang esensial bagi pengembangan manusia utuh dalam konteks sosialnya.

Ini mengingat bahwa dunia  afektif yang ada pada setiap manusia harus selalu dibina secara berkelanjutan, terarah, dan terencana sehubungan dengan sifatnya yang labil dan kontekstual.

Sasaran pendidikan moral pada umumnya dapat diarahkan untuk :

  • Membina dan menanamkan nilai moral dan norma,
  • Meningkatkan dan memperluas tatanan nilai keyakinan seseorang atau kelompok,
  • Meningkatkan kualitas diri manusia, kelompok atau kehidupan,
  • Menangkal, memperkecil dan meniadakan hal-hal yang negatif,
  • Membina dan mengupayakan terlaksananya dunia yang diharapkan,
  • Melakukan klarifikasi nilai intrinsik dari suatu nilai moral dan norma dan kehidupan secara umum.

Pendidikan moral tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah oleh guru saja. Ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tiga lingkungan yang amat kondusif untuk melaksanakan pendidikan ini, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat .

Diantara ketiganya, merujuk pada Dobbert dan Winkler (1985), lingkungan keluarga merupakan faktor dominan yang efektif dan terpenting.

Peran keluarga dalam pendidikan nilai adalah mendukung terjadinya proses identifikasi, internalisasi, panutan, dan reproduksi langsung dari nilai-nilai moral yang hendak ditanamkan sebagai pola orientasi dari kehidupan keluarga.

Lingkungan keluarga menjadi lahan paling subur untuk menumbuhkembangkan pendidikan moral. Secara operasional, yang paling perlu diperhatikan dalam konteks di lingkungan keluarga adalah penanaman nilai-nilai kejujuran dalam segenap aspek kehidupan keluarga.

Contoh sikap dan perilaku yang baik oleh orang tua dalam pergaulan dan kehidupan mereka dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Hal yang tidak kalah penting, pendidikan moral harus dilaksanakan sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka kepada peraturan-peraturan dan sifat-sifat yang baik, serta adil.

Sifat-sifat tersebut tidak akan dapat difahami oleh anak-anak, kecuali dengan pengalaman langsung yang dirasakan akibatnya dan dari contoh orang tua dalam kehidupannya sehari-hari.

Pendidikan moral yang paling baik sebenarnya terdapat dalam agama , karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan dari luar, datangnya dari keyakinan beragama yang harus ditanamkan sejak kecil.

Lingkungan pendidikan juga menjadi wahana yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan mental serta moral anak didik.

Untuk itu, sekolah diharapkan dapat berfungsi sebagai kawasan yang sejuk untuk melakukan sosialisasi bagi anak-anak dalam pengembangan mental, moral sosial dan segala aspek kepribadiannya. Pelaksanaan pendidikan moral di kelas hendaknya dipertautkan dengan kehidupan yang ada di luar kelas.

Pendidikan moral perlu diarahkan menuju upaya-upaya terencana untuk menjamin moral anak-anak yang diharapkan menjadi warga negara yang cinta akan bangsa dan tanah airnya, dapat menciptakan dan memelihara ketenteraman dan kerukunan masyarakat dan bangsa di kemudian hari.

Jalan panjang yang terutama harus ditempuh adalah memberdayakan pendidikan nilai secara intensif di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga kawasan strategis ini harus diperhitungkan sebagai pilar penentu keberhasilan reformasi dalam berbagai sisi kehidupan.

1.1    Moral Remaja Saat Ini

Remaja saat ini mempunyai moral yang cukup jelek saat ini . Hal ini diakibatkan oleh pengaruh globalisasi dimana remaja tidak dapat memfilter hal – hal negative yang bukan informasi yang baik . Banyak remaja yang melakukan tindakan asusila akibat pemakaian internet yang situsnya transparan dan menonton film pornografi . Banyak tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja baik itu tawuran antar pelajar , sekolah .

Remaja merupakan aset sumber daya manusia di masa yang akan datang, pengembangan kualitasnya harus dimulai secara terpadu melalui pendekatan structural, apakah ketika mareka berada dalam lingkungan keluarga atau dalam lembaga pendidikan, setiap tahap pendidikan memerlukan suatu usaha yang terpadu pula yang memiliki format yang jelas, melalui nilai-nilai keagamaan dan kurikulum sekolah beserta seluruh perangkatnya . Maka dari itu pendidikan moral diharapkan dapat memperbaiki moral remaja saat ini .

BAB 3

PENUTUP

1 . Kesimpulan

Pendidikan secara bahasa berasal dari kata Paedagogik yaitu Paid artinya anak   dan Gogos artinya membimbing.Jadi secara bahasa pendidikan adalah membimbing anak . Secara umum atau istilah pendidikan terdapat beberapa pendapat .

Hakikat pendidikan sebenarnya adalah untuk merubah tingkah laku seseorang , sebagai transformasi budaya dan memberikan ilmu pengetahuan . Pendidikan melibatkan peserta pendidik , pendidik , kurikulum dan sebagainya yang ada dalam unsure pendidikan .

Moral adalah perbuatan / tingkah laku / ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia . Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya , maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik , begitu juga sebaliknya .

2 . Saran

Diharapkan pendidikan moral dapat terlaksana sehingga tujuan pendidikan dapat terwujud dengan sempurna .Untuk remaja agar dapat memfilter informasi negative dari perkembangan IPTEK dan zaman .

2 Comments (+add yours?)

  1. remaja
    Jul 07, 2013 @ 07:31:18

    font perkataan kelihatan keliru

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

%d bloggers like this: